Demo Tolak Omnibus Law Berakhir Ricuh, Polisi Tangkap 8 Petinggi KAMI

Demo Tolak Omnibus Law Berakhir Ricuh, Polisi Tangkap 8 Petinggi KAMI

Wed, 14 Oct 2020Posted by Admin

Persaudaraan Alumni atau PA 212 bersama Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama menggelar aksi di Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat pada Selasa (13/10/20). Mereka menuntut dibatalkannya UU Cipta Kerja. Poin yang juga disuarakan oleh PA 212 diantaranya selamatkan NKRI dan kaum buruh, tolak RUU HIP/BPIP dan bubarkan BPIP, serta ganyang China komunis si dalang.

Front Pembela Islam (FPI) yang turut hadir dalam demonstrasi tolak Omnibus Law Cipta Kerja kemarin pun mengusung lima tuntutan umat kepada pemerintah dan DPR, melalui spanduk besar yang dipasang di mobil komando. Tuntutan pertama FPI adalah menolak Rancangan Undang-undang (RUU) HIP/BPIP dan tangkap inisiatornya. Kedua, bubarkan partai makar terhadap Pancasila. Ketiga, mendesak MPR segera memakzulkan Presiden Jokowi.

Pada pukul 12.30 WIB, tampak massa demo sudah terkonsentrasi di Jalan Medan Merdeka Barat arah Istana Merdeka. Ratusan orang dari remaja hingga orang dewasa telah berkumpul. Beberapa orang terlihat memakai masker, beberapa lainnya tidak mengenakan. Tampak massa tak menerapkan jaga jarak. Terdapat juga mobil komando dan sejumlah mobil yang membawa perbekalan demo.

Lalu sekitar pukul 15.40 WIB, massa PA 212 mulai membubarkan diri dari Patung Kuda, Jakarta Pusat. komando juga sudah meninggalkan lokasi lebih dahulu. Orator PA 212 dkk pun terdengar mengimbau massa demonstrasi untuk membubarkan diri. Massa dari PA 212 dkk pun mulai meninggalkan lokasi satu per satu.

Namun tiba-tiba, pada pukul 15.45 WIB, massa yang berbeda memulai aksi keributan. Terlihat massa yang didominasi anak-anak remaja ini melempari polisi yang menjaga barikade. Pihak kepolisian hanya menggunakan tameng tanpa memberikan perlawanan.

Situasi di lokasi semakin ricuh lantaran massa remaja yang berpakaian bebas ini tak berhenti melemparkan batu hingga botol ke arah polisi di sekitar Patung Kuda.

Laskar FPI di lokasi pun sempat melerai massa dan meminta massa membubarkan diri. Namun ajakan tersebut diabaikan oleh massa remaja tersebut. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Heru Novianto pun meminta massa yang memulai kericuhan tersebut membubarkan diri. Ia meminta massa pulang dengan tertib.

"Kami sudah mengawal unjuk rasa saudara. Sekarang silakan bubar dengan tertib. Kami anggota berjanji tidak bergerak. Jangan anarkis, aksi ini sudah selesai. Jangan terprovokasi. Kami anggota berjanji tidak bergerak. Jangan anarkis, aksi ini sudah selesai, aksi berjalan dengan damai. Silakan kembali ke rumah masing-masing dengan tertib," ujar Heru Novianto.

Usai kericuhan yang terjadi, tim Cyber Bareskrim Polri menangkap 8 orang dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), 4 orang berasal dari KAMI Medan dan 4 orang dari KAMI Jakarta. Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono menyebutkan bahwa penangkapan ini terkait demo tolak Omnibus Law Cipta Kerja yang berakhir ricuh. Ia menyampaikan, penangkapan 8 orang itu bermula dari percakapan di grup WhatsApp. 8 orang tersebut diduga memberikan informasi menyesatkan yang bermuatan suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) serta penghasutan.

"Patut diduga mereka-mereka itu tadi memberikan informasi yang menyesatkan berbau SARA dan penghasutan-penghasutan itu," tutur Brigjen Awi Setiyono.