Tragis! Bocah Korban Bullying Di Tasik Meninggal Akibat Depresi Usai Dipaksa 'Setubuhi Kucing'

Tragis! Bocah Korban Bullying Di Tasik Meninggal Akibat Depresi Usai Dipaksa 'Setubuhi Kucing'

Thu, 21 Jul 2022Posted by Admin

Peristiwa tragis berujung meninggal kembali terjadi di Singaparna, Tasikmalaya. Ada seorang bocah kelas 6 SD yang berinisial F pada awalnya ia mengalami depresi hingga sakit. 

Setelah diketahui, korban tersebut meninggal diduga karena mendapat perundungan dengan dipaksa teman-temannya untuk menyetubuhi kucing. Aksi tersebut pun direkam dan tersebar di media sosial. 

Kedua orang tua korban, AD (41) dan TI (39) tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya saat ditemui di dalam rumah oleh tim DetikJabar. Mereka bercerita mengenai pengalaman tidak mengenakan yang diderita anak keduanya.

TI, ibu korban, menceritakan bahwa anaknya sering terlihat murung dan melamun dalam beberapa hari terakhir sebelum meninggal dunia pada Minggu (17/7). Korban mengaku pada ibunya sakit tenggorokan, sehingga ia tidak mau makan dan minum. 

Kondisi F semakin parah, tak hanya susah makan dan minum, anaknya juga mengalami kejang-kejang. Anaknya dibawa ke rumah sakit, namun nahas, F meninggal dunia pada Minggu (17/7).

"Kalau ke kami ngakunya sakit tenggorokan, dimasukin air aja dimuntahin lagi. Kami bawa ke rumah sakit tapi meninggal dunia," ungkap TI.

Video tersebut akhirnya sampai ke orang tua korban. Kemudian, orang tua korban sempat menanyakan kepada F, kenapa mau melakukan aksi tersebut. Lalu, korban menjawab bahwa ia mendapatkan paksaan dan pemukulan dari teman sebayanya.

"Anak saya sering ngaku dipukul sama temannya. Tapi mungkin candaan. Anak saya mainnya jauh pak. Saya kan ada anak empat jadi susah ngawasinya. Saya juga hancur pak pas lihat videonya," ujar Ti.

Melihat peristiwa ini, Ketua KPAI Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan, saat ini pihaknya tengah memberikan pendampingan dan pemulihan psikologis kepada keluarga korban.

"Kami melihat keluarga masih belum stabil kondisi psikisnya maka kami tawarkan pendampingan dan pemulihan psikologisnya, edukasi dan juga mungkin proses hukumnya," ucap Ato.

"Jadi ananda ini usianya 11 tahun kelas enam SD dia mengalami dugaan perundungan, sampai murung. depresi akhirnya meninggal dunia. Bentuk perundungannya adegan tak senonoh. Korban dipaksa dan diancam teman sepermainanya," tambah Ato.