Kearifan Lokal Suku Baduy
Wed, 17 Jul 2019Posted by AdminDari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Sebagai negara yang kaya akan seni dan budaya, Indonesia di huni berbagai macam suku yang menetap di segala pelosok nusantara. Kearifan lokal serta adat istiadatnya menjaga kelestarian alam Indonesia hingga mampu terjaga dengan baik dan bersinergi dengan alam.
Salah satu suku yang ada di Indonesia yang sangat berpegang teguh oleh tradisi dan adat istiadat nya sampai sekarang ini ialah Suku Baduy. Kelompok etnis Sunda ini hidup bersama alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy terbagi dalam dua golongan yang disebut dengan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan yang paling mendasar dari kedua suku ini adalah dalam menjalankan aturan adat saat pelaksanaannya. Jika Baduy Dalam masih memegang teguh adat dan menjalankan aturan adat , sedangkan Baduy Luar menjalankan aturan adat istiadat lebih longgar.
Suku Baduy Luar memiliki aturan adat istiadat lebih longgar dari saudaranya Baduy Dalam, membuat masyarakat Baduy Luar bisa merasakan sedikit kemajuan teknologi, walaupun seperti itu Suku Baduy luar tetap berpegang teguh dengan adat istiadatnya, salah satunya tidak menggunakan sandal di wilayah Suku Baduy, Tidak menggunakan zat kimia dan tidak menggunakan alat trasportasi.Kehidupan mereka yang sederhana dan begitu mengaja alam membuat sebagian besar keseharian Suku Baduy dihabiskan di ladang, mereka umumnya menanam padi huma yang tidak banyak menggunakan banyak air, selain padi huma Suku Baduy juga menanam tanaman konsumsi.
Teknik bercocok tanamnya pun tidak pernah berubah dari ratusan yang lalu dan hasil dari panen mereka pun tidak pernah gagal walaupun tidak menggunakan alat modern dan zat kimia. Setiap anak Suku Baduy sudah diajarkan sejak dini untuk berladang bertujuan untuk kelak bisa mengelolah ladang sendiri setelah berkeluarga.
Karena setiap lelaki yang mau menikah harus membantu mengelolah ladang calon keluarga perempuannya agar keluarga perempuan tahu kemampuan calon suami dalam menghidupi keluarga barunya.
Tidak hanya berladang, masyarakat Suku Baduy khususnya wanita mengisi waktu luang dengan menenun, bagi Suku Baduy terutama Baduy luar menenun dianggap sebagai cara bertahan hidup dan melestarikan tradisi. Tidak hanya untuk dijual dan dipakai sehari hari, kain tenun juga berfungsi penting dalam ritual adat dan syarat wajib dalam seserahan pernIkahan
Suku Baduy mempunyai rumah adat yang bernama Sulah Nyanda, berbahan utama kayu dan bambu dan beratap dari ijuk daun kelapa yang dikeringkan. Pembuatan rumah juga tidak sembarangan, rumah harus mengikuti kontur tanah agar tidak terjadinya kerusakan alam. Rumah adat sulah nyandah terbagi dalam 3 ruang. Ruang depan bernama Sosoro yang berfungsi untuk menerima tamu dan menenun, ruang kedua bernama Tepas berfungsi untuk tepat keluarga beristirahat dan ruang ketiga Ipah berfungsi untuk tempat memasak dan tempat menyimpan persediaan makanan. Ada uniknya dirumah adat ini yaitu pintu utama harus berada ke arah barat atau selatan mengikuti aturan adat yang ada dan disetiap kampung harus ada rumah yang di atapnya ada ijuk yang di bentuk khusus untuk penangkal petir.
Setiap tahun setelah panen padi huma, Suku Baduy rutin melaksanakan Seba. Seba adalah bentuk penghormatan sebagai pengakuan dan tanda kepatuhan masyarakat Baduy terhadap penguasa daerah setempat. Dahulu Seba dilakukan dengan Kesultanan Banten tetapi kini dengan Gubernur Banten, mereka bersama-sama membawa hasil bumi untuk menjadi tanda bakti.
Ragam Indonesia Tayang Setiap Senin - Jum'at pukul 07.00 WIB.